Praktek dari Powerful Investigative Interview

Sekelebat saja, saya dapat mengetahui bahwa ini kandidat apakah memiliki potensi dan kompetensi conseptual thinking, integrity dan bertanggung jawab atau tidak. Inilah kompetensi diharapkan untuk posisi managerial di perusahaan saya pada tahun 2014 ini. Saya bisa mengetahui hal tersebut dari komunikasi dan pertanyaan yang saya ajukan juga dari goresan tandatangannya. Dan satu lagi, saya juga melihat arah gerakan matanya ketika dia saya tanyakan hal-hal terkait dengan integritasnya. Tentunya saya juga mendapatkan informasi mengenai sudut pandangnya mengenai sesuatu sehingga saya yakin  bahwa kandidat ini memiliki kompetensi conseptual thinking. Saya adalah A, seorang recruitment manager dari sebuah modern yang sedang berkembang pesat.

Bahasa tubuh si client menunjukkan bahwa proyek ini memang bukan untuk kita, sebab ketika saya tanyakan mengenai sesuatu pertanyaan sederhana, matanya menerawang dan kepalanya menengok kearah pimpinannya yang mulai meninggalkan ruang “beauty contest”. Saya adalah B seorang direktur dari sebuah perusahaan konsultan yang sedang ingin mendapatkan sebuah proyek di client saya ini, dan saya yakin bahwa client saya tidak ingin memenangkan saya dalam tender ini. Ya, saya bisa merasakan dan melihat bahwa  bahasa tubuh client saya ini sepertinya menyembunyikan sesuatu dan ingin menyatakan bahwa “saya bukanlah seorang decision maker dan saya sepertinya tidak yakin bahwa proyek ini bisa diberikan kepada Anda”.

Kisah pertama tentang A adalah kisah fiktif dan merupakan kisah rancangan saya untuk peran hrd dimasa depan. Sedangkan kisah kedua si B adalah pengalaman pribadi saya sendiri. Ini adalah dua keadaan yang bisa dilakukan oleh Anda yang telah mempelajari Powerful Investigative Interview atau Communication Skill bersama kami, PT Inovasi Sigma Perkasa. Diperkaya lagi dengan belajar ilmu graphology.

Pada tahun 2014 ini, kami meluncurkan pelatihan Powerful Investigative Interview dan Graphology adalah untuk membantu HRD untuk semakin mempertajam kompetensi yang mereka miliki sehingga lebih handal dan lebih berbobot. Pelatihan ini bukan hanya harus menjadi skill seorang recruitment manager, tapi juga untuk semua HRD. Misalnya disebuah perusahaan, ada sebuah fungsi dimana HRD harus berperan mengetahui mana saja karyawan yang ketika melakukan tindakan indisiplin adalah memang berdasarkan kebutuhannya atau dia hanya mengada-ada karena ternyata dia memiliki urusan pribadi sehingga menyita waktunya bekerja. Kealpaan seseorang sehingga menyebabkan produktivitas kerjanya menurun menjadi tanggung jawab manager lini nya dan juga tanggung jawab HRD. Bukankah demikian. Bisakah Anda bayangkan, jika kegiatan dan observasi rutin dari setiap karyawan harus bisa dibaca secara cepat oleh seorang HRD padahal HRD ini harus mengawasi 100 – 800 orang karyawan. Tentunya hal ini sulit sekali. Apakah perlu dipasang CCTV disetiap sudut ruangan, lalu kemudian dilakukan analisa terhadap setiap individu? Apakah hal ini mungkin dilakukan?

Ada banyak pilihan cara yang bisa dilakukan namun tentunya memerlukan peran seorang manager lini yang berfungsi sebagai HRD untuk mengawasi kinerja dan sikap staff yang menjadi subordinatenya. Bagaimana caranya agar manager lini melakukan observasi dengana sangat mudah, tanpa terlihat oleh subject yang diamati dan juga bisa menyebabkan perubahan perilaku kepada karyawan tersebut. Ternyata skill seperti ini, yaitu Investigative Interview juga harus dimiliki oleh semua manager lini.

Bagaimana jika skill ini disalahgunakan oleh manager lini, sehingga manager lini justru adalah orang yang sering berbohong kepada atasannya (senior manager) untuk mendapatkan pembenaran atas setiap hal yang dia lakukan. Jika demikian, tentunya senior manager harus memiliki senjata yang lebih advanced lagi dong sebab dia ternyata harus punya jurus ke 9 yang tidak diketahui oleh manager lini ini. Loh kok jadi harus punya jurus ke Sembilan ya. Padahal kan untuk memiliki 8 jurus sebelumnya saja tentunya bukan hal yang mudah?.

Jurus kesembilan ini bukanlah jurus yang sulit. Jurus ini hanya membutuhkan wisdom saja.  Wisdom adalah puncak segalanya. Misalnya, seorang manager lini adalah seorang yang memiliki communication skill yang bagus, dia adalah seorang yang mampu menjalin relationship bagus sekali. Namun pengalaman yang dimilikinya, tentunya belum bisa menandingi senior managernya. Bukankah demikian? Maksudnya pengalaman hidup. Bukan semata pengalaman kerja. Pengalaman hidup inilah biasanya  yang mengandung wisdom. Jurus kesembilan ini juga bukan hal yang susah-susah amat. Bisa saja jurus kesembilan ini adalah kemampuan conseptual thinking melekat pada diri seorang senior manager sehingga membuat dia bisa mengetahui apa saja kekurangan dari manager lininya.

Selamat berjuang menjadi HRD yang kompeten dan bisa memiliki partner manager lini yang bisa memerankan fungsi HRD dengan sangat baik. Sampai jumpa pada pelatihan kami, Powerful Investigative Interview dan Graphology Certification.

Iklan

Published by: Asri

Di usia yang tidak muda lagi ini, menjelang 40 tahun, saya ingin memberikan sharing knowledge mengenai ilmu yang telah saya miliki kepada rekan-rekan semua agar lebih cepat sukses dalam meniti karir dan menjadi seorang pengusaha

Kategori ArticlesMeninggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s