Mengatasi Keterbatasan Diri

Apakah kita memiliki keterbatasan? Tentu, yaitu waktu hidup kita yang hanya diberikan 24 jam dalam 1 hari padahal mungkin kita ingin sekali mendapatkan lebih dari 24 jam agar lebih banyak bertemu dengan teman dan lebih banyak memberikan manfaat, namun faktanya adalah demikian. Namun mengapa ketika kita bekerja, dengan waktu kerja adalah 8 jam atau 40 jam per minggu, sering sekali kita merasa bahwa keterbatasan kita dalam menyelesaikan tugas adalah karena (mindset) saya dibayar hanya untuk bekerja selama 8 jam per hari atau 40 jam per minggu sehingga jika saya bekerja lebih, berarti ada uang lembur yang harus dibayarkan. Bukan hal yang salah berfikir atau bersikap demikian, namun bercerminlah, apakah Anda adalah pekerja di kelas Clerical yang hanya dihargai dengan cara dibayar uang lembur per 1 jam nya? Apakah Anda tidak melihat di dalam identitas kartu nama Anda atau jabatan resmi bahwa Anda adalah Offier atau bahkan Anda adalah seorang Asisten Manager. So, luruskan mindset kita terhadap adanya keterbatasan waktu karena sudah malam atau karena sudah bekerja 8 jam per hari.

Dalam prinsip mengejar prestasi, maka lihatlah pemain bola, dimana mereka berlatih berkali-kali dan mengeluarkan “passionnya” tanpa menghitung berapa mereka dibayar hari ini karena mereka menjalankannya dengan senang hati yaitu karena bermain bola adalah hobi mereka dari sejak kecil. Kemudian pemain bola ini bersaing dengan pemain International hingga akhirnya menjadi seorang Talent dan dinobatkan sebagai pemain sepakbola yang bisa di transfer dan di kontrak dengan harga yang sangat special yang nilainya per bulan (gaji per bulannya)  melebihi  gaji kita jika bekerja lebih dari 20 tahun.

Keterbatasan lainnya jika Anda adalah seorang officer atau staff dan bukan lagi seorang clerical adalah fisik. Fisik Anda mungkin tidak kuat sebagaimana anak yang masih muda dan pada umumnya clerical bekerja lebih dari 10 jam demi mendapatkan penghasilan lebih sedangkan Anda tidak akan merasa perlu melakukan hal tersebut karena Anda akan berfikir bahwa saya bekerja bukan dengan fisik, namun bekerja dengan otak saya.

Keterbatasan lainnya adalah sistem di perusahaan belum memberikan reward atau punishment jika tidak mencapai target kinerja yang baik setiap bulannya atau setiap periode penilaian kinerja. Belum berjalannya sistem ke-HRD-an di perusahaan, ini pada umumnya dianggap adalah peluang untuk masih bisa mengerjakan hal-hal yang disukai tanpa peduli bahwa hal tersebut mengganggu produktivitas.

Keterbatasan yang paling tidak diizinkan di perusahaan manapun adalah malas belajar karena merasa sudah lulus SMA atau sudah lulus kuliah. Apakah dengan Anda telah menjadi seorang karyawan tetap menyebabkan tidak perlu lagi belajar? Continous Learning adalah hal yang terus dituntut oleh perusahaan Anda dimanapun posisi Anda dan bergerak dibidang apapun perusahaan Anda. Bayangkan jika adalam waktu 2 tahun Anda tidak bertumbuh dan gaji Anda terus bertambah, maka terjadilah yang disebut sebagai penglamaan kerja. Penglamaan kerja bukan berarti pengalaman kerja. Misalnya seorang tukang sapu, ketika dia menyapu saja setiap hari selama 2 tahun, maka ketika ditanya, apakah Anda berpengalaman? berapa tahun Anda berpengalaman menjadi tukang sapu? pada umumnya kita akan menjawab sudah berpengalaman menjadi tukang sapu adalah 2 tahun. Padahal selama menjadi tukang sapu, apakah ada pengalaman improvement dan pembelajaran yang dilakukan, misalnya menambah nuansa di dalam pekerjaan tersebut sehingga ada unsur Inovatif dan unsur Kreatif? Jika tidak ada, maka 2 tahun tidak dianggap ada. Hanya penglamaan kerja yang terjadi dan bukan pengalaman kerja.

Di era modern ini, keterbatasan lainnya yang juga tidak diperbolehkan adalah tidak mau berinovasi. Jika Anda hanya melakukan kegiatan rutinitas saja, tanpa mau berinovasi dan tidak mau menjalankan sharing knowledge, maka Anda akan ditinggalkan. Ada sebuah cerita menarik tentang inovasi ini, disebuah perusahan IT berskala International dimana hampir semua karyawannya adalah ahli IT dan mereka tidak mau memberi ilmunya karena harga 1 buah ilmu IT itu mahal harganya, maka si A ini sendirian saja menyimpan ilmunya dan tidak mau berbagi. Sementara itu, ada 10 orang temannya yang memang pada saat itu masih belum memiliki ilmu yang disimpan tersebut, namun disebabkan karena mereka mau membuat komunitas untuk berbagi dan mereka membuat pertemuan rutin untuk sharing knowledge, akhirnya sedikit demi sedikit dan pasti mereka bertumbuh melebihi si A. dan 10 orang ini menjadi komunitas dengan jumlah yang lebih banyak karena semuanya bisa berbagi di dalam komunitas ini dan akhirnya komunitas ini mampu mendapatkan ilmu yang jauh lebih unggul dan lebih mutakhir hanya dalam wkatu kurang dari 1 tahun sementara si A sudah tidak memiliki apa-apa lagi karena hanya memiliki 1 ilmu yang dia simpan tersebut. Anda bisa membayangkan bagaimana pesatnya pertumbuhan knowledge dalam bidang IT tentunya, dengan berbagai jenis software dan aplikasi terbaru.

So, sudah terlalu banyak diuraikan betapa manusia mengizinkan dirinya merasa memiliki keterbatasan padahal keterbatasan tersebut diciptakan oleh mindsetnya sendiri. Mulai hari ini jangan pernah menyatakan keterbatasan Anda adalah sesuatu yang harus bertahan dalam waktu lama di dalam pola kerja Anda yang tidak produktif, namun jadilah seseorang yang memiliki kepribadian unggul dan menyatakan setiap hari bahwa saya mampu berkinerja secara excellence karena saya adalah manusia unggul yang diciptakanNya penuh dengan banyak sekali keunggulan bukan dengn banyak keterbatasan. Selamat berjuang, 28 April 2015. Asri Novita (Direktur PT Inovasi Sigma Perkasa, http://www.inovasisigma.co.id)

Iklan

Published by: Asri

Di usia yang tidak muda lagi ini, menjelang 40 tahun, saya ingin memberikan sharing knowledge mengenai ilmu yang telah saya miliki kepada rekan-rekan semua agar lebih cepat sukses dalam meniti karir dan menjadi seorang pengusaha

Kategori ArticlesMeninggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s