Menjadi Manusia Unggul atau Kerdil

Bertambahnya usia, seyogyanya membuat kita semakin mampu menemukan wisdom atau hikmah dari kehidupan ini, kemudian membagikannya kepada ahli waris kita atau generasi berikutnya. Sejumlah kebaikan, ilmu yang positif dan petunjuk kehidupan yang telah kita pahami di masa kita hidup, selayaknya diwariskan kepada generasi berikutnya sehingga tidak hanya berhenti pada diamalkan oleh diri kita dan keluarga inti kita saja, namun tuntutan yang Alloh berikan adalah lebih dari itu yaitu menyebarkan nya dengan cara mengajarkannya atau menuliskannya atau menyampaikannya dan tahapan berikutnya adalah mewariskan kepada generasi berikutnya.

Jika Anda memiliki uang seratus ribu rupiah, lalu Anda menyimpannya, kemudian uang tersebut habis hanya dalam hitungannya 5 hari saja sehingga tidak bisa diwariskan kepada generasi berikutnya kecuali uang tersebut menjadi modal usaha. Maka sangat berbeda dengan ilmu dan hikmah, yang mampu membuat generasi kita selanjutnya mendapatkan warisan yang luar biasa indah dan berharganya. Itulah sebabnya, saya merubah mindset saya untuk tidak memberikan atau memanjakan seseorang atau menilai seseorang hanya karena uang. Misalnya, ketika kita melihat seorang tukang parkir di sebuah tempat, sebenarnya yang dia harapkan bukan semata-mata uang, karena dengan uang 2000 rupiah atau 5000 ribu rupiah pun, dia tetap tersenyum. Sekalipun hari itu, Anda memberikan uang lebih besar dari yang dia dapatkan, misalnya anda memberikan uang lebih senilai 10000 rupiah, sesungguhnya bahagia yang dia rasakan hanyalah sesaat. Namun yang dia butuhkan adalah doa dan keikhlasan dari kita yang memberikannya. Sehingga tidak terjadi situasi dimana dia akan memperlakukan mobil yang mewah dengan pemberian uang parkir lebih besaar, lebih diutamakan daripada mobil yang tidak mewah. Jangan juga menyebabkan si tukang parkir ini membeda-bedakan pelayanannya hanya karena uang. Sejurus cerita ini tidak menarik karena mengapa contohnya adalah tukang parkir. Bagaimana kalau kita ganti tukang parkir dengan karyawan di kantor yang posisinya Office Boy. Ketika dia harus melayani 10 orang atasan, dan ternyata ada seorang atasannya yang sering memberikan tips lebih bahkan sangat luar biasa nilainya, misalnya mencapai 300 ribu per hari jika mau mengikuti perintahnya. Apapun perintah atasan tersebut, biasanya seorang office boy akan menjalankannya karena merasa mendapatkan tambahan gaji. Padahal perintah yang diberikan adalah melakukan sesuatu pekerjaan yang tidak diperkenankan di perusahaan tersebut, misalnya mengantarkan dokumen pribadi atasan, padahal bukan tugas kantor resmi di perusahaan tersebut. Simple dan sederhana. Namun ini adalah bibit dari sebuah kondisi dimana kita sering sekali menilai seseorang dari uang. seolah-olah dengan uang, seseorang mampu kita beli. Padahal apa yang dilakukan oleh office boy ini adalah melakukan korupsi waktu, yaitu menggunakan waktu kerjanya untuk pekerjaan lain di luar pekerjaan resmi perusahaan. Fenomena ini sederhana dan tidak sering diambil pusing.

Sekelumit cerita tersebut, juga mengandung makna bahwa kita sering sekali menilai orang lain dengan begitu murahnya sehingga dengan uang (yang jumlahnya tidak seberapa), kita merasa mampu membeli orang tersebut sehingga kita lupa bahwa nilai-nilai positif yang ditanamkan kepada orang ini, seperti nilai kejujuran, amanah, integritas yang mungkin juga biasanya kita sampaikan kepada team kita, namun kita rusak dengan perilaku kita sendiri yang seperti ini.

Tulisan ini ingin mengajak kita untuk menjadi manusia unggul dan jangan menjadi manusia kerdil. Cerita diatas hanya sekelumit kisah kecil dan tentunya banyak sekali kisah seperti itu, yang seharusnya membuat hati nurani kita bergejolak ketika kita memberikan pendidikan tidak baik kepada banyak orang di sekeliling kita. Pada umumnya masyarakat kita memang menilai bahwa seorang yang dermawan dan sering memberikan uang, adalah seorang yang luar biasa unggul. Jika kedermawanan tersebut memang kita lakukan dengan ikhlas, tanpa menuntut balik atau tanpa berharap apapun, itu adalah sesuatu yang luar biasa indah. Namun jika kita cermati lebih lanjut, misalnya Anda meminta bantuan kepada seseorang yang memang orang tersebut adalah seorang yang berada disekitar Anda, atau dan dia melihat Anda sedang kesulitan membawa sebuah barang yang besar dan kebetulan dilihatnya, maka apakah keinginan menolongnya harus diawali dengan kalimat, wani piro pak? Ini adalah fenomena yang sering terjadi.

Saya sering sekali merasakan hal yang aneh luar biasa, ketika pernyataan wani piro tersebut itu, dilontarkan oleh seorang pejabat atau eksekutif. Hati saya bergumam, apakah orang Indonesia ini masih diragukan kebaikannya dalam bersikap ramah pada sesama. Bukankah Indonesia dikenal sebagai seorang yang ramah dan baik hati. Mengapa kita takut membantu orang lain sehingga orang lain tersebut sukses bisnisnya atau karirnya. Haruskah ucapan wani piro dilontarkan kepada orang yang meminta bantuan kita posisi dan wewenang dan kemegahan duniawi juga sudah kita miliki hari ini. Apakah ini manusia unggul atau manusia kerdil? Silahkan Anda jawab sendiri, dan jawaban Anda boleh berbeda.

Membangun karakter unggul memang bukan pekerjaan mudah. Membedakan mana pekerjaan malaikat dan mana pekerjaan setan, ternyata tipis sekali. Semoga kita masih terus berada di jalan yang lurus, bukan hanya berupa topeng namun adalah kesempurnaan kepribadian yang unggul, yang kita miliki. Tunaikan hak saudara kita, jika memang keringatnya telah dikeluarkan untuk kita dan tidaklah menganggap orang lain bisa dibeli dengan uang karena itu adalah perilaku manusia kerdil.

Published by: Asri

Di usia yang tidak muda lagi ini, menjelang 40 tahun, saya ingin memberikan sharing knowledge mengenai ilmu yang telah saya miliki kepada rekan-rekan semua agar lebih cepat sukses dalam meniti karir dan menjadi seorang pengusaha

Kategori ArticlesMeninggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s